Selasa, 17 Juli 2018

HIKMAT SANG RATU


                                                        
“ HIKMAT SANG RATU”
                                                   Oleh : Saul Ering.


Stage setting : Ruangan istana kerajaan. Kursi kebesaran sang ratu nampak mengisi ruangan itu. Di sudut  ruangan seorang perempuan berpakaian indah sedang memperhatikan sebuah bingkai foto.. Cara memandangnya pun penuh keharuan seakan-akan sementara mengenang kehidupan bersama dengan orang yang tergambar di dalam bingkai itu. Orang yang dalam foto itu adalah sang raja yang telah meninggal. Kemudian perempuan itu memeluk bingkai foto itu dengan penuh kehangatan, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara ketukan pintu (seseorang mengetuk pintu)

Ratu
Siapa yang mengetuk pintu?

Pelayan
Mohon ampun  yang mulia. Ini aku pelayanmu. Mohon izin masuk membawa makanan untuk ratu yang mulia.

Ratu
Silahkan masuk

Pelayan
Mohon permisi yang mulia. ( membawa makanan dan meletakkannya di atas meja).  yang mulia ratu,  apa ada lagi yang mulia ingin hamba lakukan?

Ratu
Suruh penasehat menemuiku di sini.

Pelayan
Baik yang mulia. Hamba mohon diri kembali melaksanakan perintah yang mulia. (beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu)

Ratu
Siapa yang di luar itu?

Penasehat
Mohon ampun yang mulia. Ini hamba penasehatmu.

Ratu
Silahkan masuk

Penasehat
Ada apa yang mulia memanggil saya kemari?
                      
Ratu
Saudara penasehat, apakah kau masih ingat berapa lama mendiang tuan raja memerintah atas negeri ini?

Penasehat
Yang mulia ratu, sepengetahuan hamba mendiang tuanku raja telah memerintah dan berkuasa atas negeri ini sudah hampir 20 tahun lamanya.



Ratu
Apakah kau melihat dan memperhatikan bagaimana situasi kehidupan masyarakat di negeri ini selama pemerintahan mendiang tuan raja?

Penasehat
Mohon ampun yang mulia. Apakah hamba harus mengatakan jujur kepada yang mulia?

Ratu
Ya….kejujuran adalah sebuah nilai kehidupan yang harus dijunjung tinggi di dalam kerajaan ini bahkan di negeri ini.

Penasehat
Baik yang mulia. Kalau begitu mohon ampun hamba mengatakan hal yang sebenarnya. Semenjak mendiang tuanku raja memerintah atas negeri ini keadaan masyarakat di luar kerajaan ini sangatlah memprihatinkan.

Ratu
Apa maksud penasehat dengan sangat memprihatinkan?

Penasehat
Mohon maaf yang mulia. Maksud hamba adalah selama ini banyak rakyat yang menjadi miskin dan dikucilkan oleh karena adanya ketidakadilan peraturan yang dibuat oleh mendiang tuan raja di negeri ini. Sehingga rakyat yang hanya hidup pas-pasan selalu mendapat tekanan dari para bangsawan. Bahkan terjadi perampasan harta dan penghilangan mata pencaharian kepada rakyat. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin bertambah miskin. Dimana-mana rakyat yang berani melakukan perlawanan langsung dikucilkan, dipenjarakan  dan sampai diasingkan ke luar dari negeri ini. Rakyat mengalami keterpasungan oleh tirani mendiang tuan raja. Mohon ampun hamba telah mengatakan ini.

Ratu
(hening sejenak)…Ternyata selama ini aku benar-benar telah dibutakan dengan kebutaan mataku ini. Bertahun-tahun lamanya aku dibodohi oleh suamiku sendiri. Mengapa ketika aku baru dapat melihat ini, aku baru tahu dan sadar bahwa selama ini suamiku telah bersikap sejahat ini kepada rakyat. Saudara penasehat, terimakasih atas kejujuranmu. Sekarang biarkan aku sendiri dulu di sini.

Penasehat
Baik yang mulia. Hamba mohon permisi. (penasehat keluar dan ratu nampak memikirkan dan mengenang sesuatu)

Ratu
(kembali ia mengambil dan memegang bingkai foto mendiang tuan raja sambil mengucapkan sesuatu). Sekian tahun lamanya aku hidup bersamamu tanpa ada keraguan sedikitpun dariku atas segala kekuasaanmu yang kau jalankan di negeri ini. Semenjak kebutaan kedua mata ini, sejak itulah kau telah membodohiku. Kau telah berbohong kepadaku. Mengapa keserakahan dan ketamakan serta kesombongan jabatan kekuasaan telah menggerogoti hatimu dengan mengorbankan rakyat kita yang tidak bersalah, mengapa…….? (ratu berdiam sejenak dan berdoa)
Ya Tuhan, dosa apa yang telah aku buat sehingga aku sempat mengalami kebutaan mata ini bertahun-tahun lamanya?  turut berdosa atas apa yang telah dilakukan oleh suamiku kepada rakyatku. Jikalau Engkau berkenan kepadaku untuk merubah keadaan negeri ini maka berikanlah aku kesempatan untuk melakukannya demi kebaikan rakyatku. Berikan aku hikmat untuk dapat melakukannya. Amin.
(Ratu berjalan ke arah pintu masuk memanggil penasehat). Penasehat……saudara penasehat…..

Penasehat
Ya yang mulia ratu. Apa benar yang mulia memanggilku?


Ratu
Iya. Coba engkau mendekat kemari. (penasehat menghampiri ratu). Begini saudara penasehat, sekarang ini aku akan berkeliling di negeri ini untuk melihat-lihat keadaan di luar kerajaan ini apa yang sebenarnya telah terjadi. Panggil dayang-dayang untuk bersama kita pergi ke luar.

Penasehat
Baik  hamba laksanakan. (keluar memanggil dayang-dayang dan kembali menghadap ratu).

Penasehat
Hamba menghadap yang mulia

Dayang-dayang
Hamba juga menghadap dan siap melaksanakan perintah yang mulia.

Ratu
Kau penasehat dan dayang-dayang. Saat ini temani aku pergi ke luar  istana ini untuk melihat-lihat keaadaan masyarakat yang sebenarnya

Dayang-dayang dan penasehat
Baik yang mulia ratu. (Ratu, penasehat dan dayang-dayang keluar. Beberapa saat kemudian masuk pelayan  mengambil piring bekas makanan ratu. Saat menuju ke pintu keluar ia berhenti  sejenak dan berpikir sesuatu. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah mahkota raja dan ratu. Sementara ia memperhatikannya tiba-tiba ia dikagetkan dengan tepukan tangan seseorang di bahunya).

Perempuan Tua                                                                                                                            
Hei….apa yang kau lakukan di sini?

Pelayan
Ohhhhh………ibu?????

Perempuan Tua
Apa yang sedang engkau lakukan di sini? Mengapa engkau memegang mahkota itu?

Pelayan
Aku hanya ingin memegangnya saja ibu.

Perempuan Tua
Kamu jangan berbohong. Ibu tahu apa yang ada di dalam hatimu dan di dalam isi kepalamu. Kamu jangan berpura-pura. Kamu menginginkan mahkota itu kan?

Pelayan
(menjawab dengan terbata-bata)..iya bu. Apakah salah aku menginginkan itu?

Perempuan Tua
Anakku….apa yang kau pikirkan dan yang kau inginkan, itu sudah sejak lama ibu pikirkan.

Pelayan
Maksud ibu……mahkota ini juga menjadi keinginan ibu untuk mendapatkannya?

Perempuan Tua
Seperti begitu. Jelasnya adalah bahwa sudah sejak yang mulia ratu menjadi buta di saat pemerintahan tuan raja, ibumu telah menerencanakan sesuatu untuk mendapatkan mahkota itu dari sang ratu. Bahkan lebih dari itu ibu hendak menjadikan kau sebagai ratu di kerajaan ini.


Pelayan
Apa bu…..apa aku tidak salah dengar?

Perempuan Tua
Tidak nak. Apa yang kau dengar itulah yang sementara ibu rencanakan sampai saat ini tinggal menunggu waktu yang tepat. Sehubungan dengan yang mulia sudah dapat melihat, jadi ibu ada perubahan rencana.

Pelayan
Kalau begitu, mahkota ini sebentar lagi akan menjadi milikku dan aku akan berkuasa di negeri ini.

Perempuan Tua
Bukan aku nak…tetapi kita….kita.

Pelayan
Oh iya bu. Kalau boleh aku tahu apa yang menjadi rencana ibu? Mungkin aku bisa membantu ibu mempercepat rencana ini dan terlebih mempercepat mahkota terpakai di kepalaku ini..hahahahaha…(pelayan mendekati ibunya dan mendengarkan bisikan dari ibunya)

Pelayan
Baik bu…aku akan melakukan apa yang direncanakan ibu.

Perempuan Tua
Jangan tergesa-gesa dulu nak. Jangan gegabah. Sebab kalau terlalu gegabah rencana kita bisa gagal bahkan kita akan dihukum yang mulia ratu. Biarlah dulu kita menunggu waktu yang tepat. Kita harus selalu menjaga sikap di depan yang mulia ratu. Jangan sampai terkesan kita sedang bersekongkol merencanakan merebut kekuasaannya. Biarlah  sementara  ini kau terus melayani mulia ratu.

Pelayan
Baik bu. Tetapi …bagaimana dengan orang-orang yang selalu ada dekat dengan mulia ratu? Apakah mereka tidak akan menjadi penghalang untuk memuluskan rencana yang ibu  maksudkan?
                                                                          
Perempuan Tua
Maksudmu siapa ?

Pelayan
Siapa lagi kalau bukan si penasehat pribadi yang mulia ratu beserta dengan koleganya.

Perempuan Tua
Oh mereka itu maksudmu. Jangan khawatir nak, ibu sudah memikirkan itu jauh sebelumnya. Tetapi meskipun demikian, kita harus tetap waspada kepada mereka. Ibu juga sudah menyusun rencana untuk menyingkirkan mereka.

Pelayan
Ohh…ternyata otak ibu sangat cerdas. Tidak menyesal aku mempunyai ibu seperti ini
                           
Perempuan Tua
Ingat nak jangan dulu gegabah dan menunjukkan sikap yang terlalu berlebihan di dalam istana ini. Rencana kita masih panjang. Jangan sia-siakan waktu dan rencana yang sudah kita susun selama ini. Ingat nak.

Pelayan
Baik bu, jangan khawatir. Ibu  percaya saja pada saya.



Perempuan Tua
Baiklah kalau begitu. Ibu akan keluar dulu, jangan sampai  yang mulia ratu tahu kalau ibu ada di ruangan ini bersamamu. Teruskan saja pekerjaan kamu.
(perempuan tua keluar. Pelayan terus melanjutkan tugasnya membersihkan ruangan lalu keluar. Masuk ratu bersama penasehat dan dayang-dayang. Ratu langsung duduk dan menyuruh dayang-dayang mengambilkan minuman)

Ratu
Dayang-dayang, tolong ambilkan minuman. (dayang-dayang membawakan minuman buat ratu). Terimakasih. Oh ya penasehat, kita akan mencari waktu lagi untuk meneruskan apa yang sudah kita lakukan tadi. Sekarang ini aku ingin beristirahat dulu.

Penasehat
Baik yang mulia ratu.  Hamba mohon permisi. (ratu menganggukkan kepala)

Dayang-dayang
Hamba juga mohon permisi yang mulia ratu.

Ratu
Tunggu sebentar. Temani dulu aku sebentar di sini. ( ratu mengambil kembali bingkai foto raja dan melihatnya sampai ia tertidur. Dan tanpa disadari bingkai foto itu  terjatuh dan pecah. Dayang-dayang bergegas mengangkat bingkai foto yang jatuh itu dan hendak membersihkan pecahan kaca bingkai foto tetapi tiba-tiba masuk pelayan)
Pelayan
Apa yang sedang kau lakukan?

Dayang-dayang
Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu baru masuk?

Pelayan
Aku sengaja tidak mengetuk pintu, karena aku ingin tahu apa yang sedang engkau lakukan di dalam sini. Rupanya kau telah memecahkan kaca bingkai foto mendiang tuan raja?

Dayang-dayang
Bukan aku yang menjatuhkan dan memecahkannya. Tadi saat yang mulia ratu tertidur, foto ini terlepas dari tangannya dan jatuh sehingga kaca bingkai foto ini pecah.

Pelayan
Achhh….kamu jangan berpura-pura lagi. Jangan berbohong. Buktinya aku mendapati kamu sementara memegang foto itu di bawah sana. Akan aku laporkan kepada yang mulia ratu.

Dayang-dayang
Kau jangan menuduh orang sembarangan saja.

Pelayan
Aku tidak menuduh. Aku  hanya  mengatakan apa yang aku lihat.

Dayang-dayang
 Terserah kau mau bilang apa. Yang pasti bukan aku yang menjatuhkan dan memecahkannya.

Pelayan
Kamu yang memecahkannya. Iya kan.



Dayang-dayang
Hati-hati dengan mulutmu itu. Lebih baik kau keluar dari ruangan ini. Bicaramu hanya akan membuat keributan dan mengganggu istirahat dari yang mulia ratu.

Pelayan
Baik. Aku akan keluar dari ruangan ini. Tapi ingat aku akan mengatakan pada yang mulia ratu  bahwa kau telah memecahkan kaca bingkai foto itu. (pelayan  langsung keluar. Dayang-dayang  membersihkan pecahan kaca di lantai lalu mengambil foto itu dan meletakkannya di atas meja. Kemudian keluar. Beberapa saat kemudian ratu terbangun dan mencari sesuatu, kemudian memanggil dayang-dayang dan pelayan)

Ratu
Dayang-dayang…..pelayan….

Dayang-dayang
mohon maaf yang mulia ratu. Ini aku dayang-dayang.

Ratu
Silahkan masuk. (terdengar kembali suara ketukan pintu)

Pelayan
Mohon maaf yang mulia ratu. Ini aku pelayanmu

Ratu
Silahkan masuk. Aku mau bertanya kepada kalian berdua. Apakah kalian tahu dimana foto tuan raja? (dayang-dayang dan pelayan saling menatap). Sepengetahuan saya terakhir yang bersamaku di ruangan ini adalah kau dayang-dayang. Apa kau tahu dimana foto itu?

Dayang-dayang
Maaf yang mulia ratu. Foto itu ada di sebelah sana. Bukan hamba bermaksud lancang meletakkan foto itu di situ tetapi aku mengambilnya di lantai ketika foto itu jatuh dari tangan yang mulia ratu sewaktu yang mulia tertidur tadi.

Pelayan
Mohon izin hamba bicara yang mulia. Kaca  bingkai foto itu telah pecah.

Ratu
Apa? Pecah????

Pelayan
Iya yang mulia

Ratu
Siapa yang telah berani memecahkannya?

Pelayan
Mohon ampun yang mulia. Hamba mau mengatakan apa yang hamba lihat tadi bahwa foto itu dipecahkan oleh dayang-dayang.

Dayang-dayang
Mohon ampun yang mulia. Bukan hamba yang memecahkannya. Hamba hanya mengambilnya di lantai dan pada waktu itu masuk pelayan melihat aku sedang membersihkan pecahan kaca yang ada sehingga ia menuduhku yang memecahkannya.


Pelayan
Bohong dia yang mulia. Aku sendiri yang melihat dia yang menjatuhkannya sehingga pecah.

Dayang-dayang
Mohon ampun yang mulia. Bukan hamba yang memecahkannya.

Pelayan
Bohong yang mulia. Aku berani bersaksi bahwa dia yang memecahkannya.

Dayang-dayang
( sambil menangis memohon) Sekali lagi mohon beribu-ribu maaf yang mulia. Bukan aku yang memecahkannya. Tetapi kalau memang  hamba harus dihukum, hamba akan terima.

Ratu
Baiklah. Persoalan ini saya  akan tindaklanjuti. Sementara itu kau dayang-dayang beristirahat dulu dari pekerjaanmu ini. Saya akan perintahkan para pengawal untuk membawamu kembali ke  kampungmu.

Dayang-dayang
Dengan segala hormat yang mulia, hamba menerima keputusan yang mulia. Hamba mohon  permisi yang mulia.(langsung keluar)

Ratu
(menganggukkan kepala). Pelayan, tolong  panggilkan penasehat.

Pelayan
Hamba laksanakan yang mulia
(beberapa saat kemudian masuk penasehat  dan pelayan)

Penasehat
Hamba menghadap yang mulia. Benarkah hamba dipanggil yang mulia ratu?
(sementara penasehat menghadap dan berbicara dengan ratu, pelayan berpura-pura  mengerjakan sesuatu sambil memperhatikan pembicaraan ratu dan penasehat)

Ratu
Ya benar.

Penasehat
Mohon petunjuk apa yang hamba akan lakukan

Ratu
Saudara  penasehat, dapatkah engkau mencarikan seorang penyair di negeri ini yang pintar dan cakap mengartikan mimpi. Tugas ini  aku percayakan kepadamu.

Penasehat
Hormat yang mulia. Trimakasih atas kepercayaan yang  mulia. Hamba segera laksanakan. Mohon permisi yang mulia ratu.

Ratu
Silahkan penasehat
( penasehat langsung keluar dan pergi mencari mendapatkan orang yang dimaksudkan oleh ratu)

Ratu
Pelayan, tolong bersihkan dan atur lebih rapi ruangan ini. Aku akan ke ruangan perpustakaan dulu. (ratu langsung pergi keluar menuju ruangan perpustakaan. Tidak lama kemudian ibu dari pelayan masuk)

Perempuan Tua
Apa yang sedang  kau lakukan di sini nak?

Pelayan
Ohhh ibu, saya kira siapa. Aku sedang ditugaskan ratu untuk membersihkan ruangan ini.

Perempuan Tua
Oh ya, ibu dengar si dayang-dayang ratu sudah diusir dari istana ini. Apa benar nak?

Pelayan
Ya benar sekali bu (sambil tertawa)

Perempuan Tua
Hussss…jangan terlalu kuat bicara dan tertawamu, nanti di dengar orang.

Pelayan
Aku telah menyingkirkan satu orang. Tidak lama lagi si penasehat yang akan mendapat giliran untuk keluar dari istana ini (tertawa).

Perempuan tua
Jangan gegabah nak. Jangan dulu kamu bersenang-senang karena masih panjang rencana kita berdua.
(tanpa diketahui mereka, tiba-tiba ratu masuk dan berhenti sejenak memperhatikan pembicaraan perempuan tua dan pelayan itu. Kemudian perlahan-lahan mundur ke balik dinding)

Pelayan
Sesudah  penasehat, tinggal satu lagi kita  akan singkirkan. Si ratu yang malang. (tertawa. Ratu sangat terkejut mendengar percakapan itu.)

Perempuan Tua
Nak, lebih baik aku keluar dulu. Nanti ketahuan oleh ratu.

Pelayan
Baik bu. (perempuan tua keluar dan masuk ratu sehingga saling bersentuhan. Pelayan kaget melihat ratu masuk dan berpura-pura bekerja)

Ratu
Pelayan, siapa perempuan tua tadi? agaknya aku mengenal dia.

Pelayan
Maaf yang mulia ratu. Dia hanya pekerja di dapur. Kebetulan saja dia melewati ruangan ini dan aku memanggilnya untuk membantuku di sini.

Ratu
( semakin curiga tetapi bersikap biasa terhadap pelayan). Baiklah. Kalau pekerjaanmu sudah selesai silahkan tinggalkan ruangan ini.

Pelayan
Baik yang mulia.

Ratu
Tunggu sebentar. Tolong panggilkan penasehat menemuiku di sini.

Pelayan
Baik, hamba laksanakan yang mulia ratu. (pelayan keluar dan ratu nampak memikirkan sesuatu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu)

Ratu
Siapa yang di luar itu?

Penasehat
Mohon ampun yang mulia, ini aku penasehat.

Ratu
Silahkan masuk (penasehat masuk)

Penasehat
Terimakasih yang mulia. Ada apa  yang mulia ratu memanggil saya?

Ratu
Saudara penasehat, dari pengamatanmu selama ini bagaimana kau melihat sikap pelayan aku?

Penasehat
Maksud ratu pelayan yang selalu membersihkan ruangan ini?

Ratu
Iya.

Penasehat
Mohon ampun yang mulia ratu. Hamba merasa dia selalu bersikap santun terhadap yang mulia ratu. Memangnya ada apa yang mulia ratu menanyakan tentang pelayan itu?

Ratu
Saudara penasehat. aku  mulai menaruh curiga kepada pelayan itu.

Penasehat
Maksud yang mulia ratu curiga bagaimana?

Ratu
Begini saudara penesehat. Tadi pada saat aku akan masuk ruangan ini aku melihat pelayan sedang bercerita dengan seorang perempuan tua. Dan aku sempat mendengar isi percakapan mereka.

Penasehat
Maksud yang mulia ratu perempuan tua yang mana?

Ratu
Aku tidak terlalu mengenal perempuan tua itu. Tetapi menurut pelayan, dia adalah salah seorang pekerja di dapur. Apa kau mengenal perempuan tua itu?

Penasehat
Yang mulia ratu, memang sepengetahuanku ada perempuan tua yang bekerja di dapur. Ia telah ada semenjak mendiang tuan raja masih hidup. Dia masuk dalam istana ini semenjak yang mulia ratu mulai  mengalami gangguan penglihatan pada mata yang mulia ratu. Itulah sebabnya yang mulia ratu tidak terlalu begitu mengenal perempuan tua itu.

Ratu
Aku semakin curiga ketika  mendengar isi percakapan mereka berdua bahwa mereka mempunyai rencana yang tidak baik di sini. Kelihatannya mereka berdua sangat akrab seperti anak dan ibu saja.



Penasehat
Mohon ampun  yang mulia ratu. Kalau begitu kita harus menyelidiki tentang keberadaan perempuan tua itu dan hubungannya dengan pelayanm ratu.

Ratu
Iya. Tetapi jangan terlalu gegabah. Bersikap biasa saja sambil mencari tahu keadaan yang sebenarnya.

Penasehat
Baik yang mulia ratu. Apa masih ada yang hamba akan lakukan?

Ratu
Untuk sementara itu dulu. Sekarang aku ingin beristirahat dulu di kamar. Aku cukup lelah setelah berjalan mengelilingi kerajaan ini. Temani aku pergi ke kamar.

Penasehat
Baik yang  ratu.( penasehat dan ratu keluar. Masuk pelayan)

Pelayan
Sebelum terlambat, dan sebelum ratu mengetahui rencana aku dan ibuku selama ini kini saatnya aku akan gunakan kesempatan ini untuk segera membunuh si ratu yang malang. (tertawa dan mengambil botol yang berisi bubuk beracun lalu menuangkan ke dalam minuman serta makanan ratu. Sementara pelayan menuangkan racun ke dalam minuman, tiba-tiba masuk penasehat).

Penasehat
Hei…..apa yang sedang kau lakukan di ruangan ini?

Pelayan
Ohh…maaf penasehat. Aku kemari hanya untuk membawa minuman dan makanan ratu.

Penasehat
Yang aku  tahu, sebelum yang mulia ratu memanggilmu masuk ke ruangan ini kau tidak boleh berada di sini.

Pelayan
Memang benar. Tetapi aku hanya membawa minuman dan makanan untuk yang mulia ratu. Baiklah aku permisi dulu. (pelayan keluar dan penasehat mengamat-amati minuman dan makanan yang dibawa pelayan. Tiba-tiba ratu masuk).

Penasehat
Mohon maaf yang muliaa ratu kalau hamba telah lancang berada di ruangan ini tanpa sepengetahuan yang mulia ratu.

Ratu
(sambil menganggukkan kepala).

Penasehat
Yang mulia ratu, aku ada di sini karena aku tadi sempat melihat si pelayan ada di ruangan ini dengan gerak-geriknya yang mencurigakan. Karena aku curiga jadi aku langsung saja masuk.

Ratu
(langsung menuju kursi dan duduk) saudara penasehat, akhir-akhir ini perasaanku sangat tidak mengenakkan. Mungkin saja ada sesuatu yang akan dilakukan oleh si pelayan. Oh ya saudara penasehat, bagaimana tugas yang aku percayakan padamu. Apakah sudah di dapat penyair  itu?


Penasehat
Hormat yang mulia. Penyair yang mulia maksudkan tersebut sudah aku dapatkan. Kalau yang mulia ratu ingin dia masuk, akan aku panggilkan

Ratu
Kalau begitu panggil dia masuk.

Penasehat
Baik yang mulia. ( penasehat keluar dan memanggil  orang yang dicari ratu)
Hamba kembali menghadap yang mulia. Inilah orang yang di cari yang mulia ratu. Mohon petunjuk selanjutnya.

Penyair
Hormat yang mulia ratu. Hamba menghadap atas perintah yang mulia ratu.

Penasehat
Hormat yang mulia ratu. Perlu hamba kenalkan siapa orang ini. Dia adalah seorang penyair sekaligus penterjemah mimpi. Dia juga adalah seorang pengembara yang  selalu bernubuat dan mengajarkan kebaikan pada khalayak orang yang di temuinya di segala sudut jalan. Aku telah melihat dan memperhatikan beberapa orang yang sama pekerjaannya dengan dia, tetapi orang ini yang aku nilai pantas untuk diperhadapkan kepada yang mulia ratu.

Ratu
Baiklah. Aku akan memberi tugas kepada kamu untuk mengartikan dan menjelaskan mimpi yang aku alami beberapa hari yang lalu. (ratu mengambil secarik kertas dan pulpen lalu menuliskan mimpi ratu kemudian diserahkannya kepada penyair itu). Saudara penasehat, suruh orang ini beristirahat sejenak dan diberi makanan dan minuman. Sesudah itu kembali ke ruangan ini.

Penasehat
Baik yang mulia. Hamba laksanakan.

Penyair
mohon permisi yang mulia ratu. (penyair dan penasehat keluar)

Ratu
(sambil berjalan memikirkan sesuatu) apa memang benar si pelayan itu mempunyai niat jahat terhadap aku? Apa adaa hubungannya dengan perempuan tua yang aku lihat waktu beberapa waktu yang lalu? (ratu berdoa).
Ya Tuhan, berilah hikmat kepadaku untuk dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di istana ini. Dan berilah hati yang tulus untuk boleh mengambil sikap yang benar dan tepat atas semua yang telah dan akan terjadi. Terpujilah Engkau ya Tuhan, amin.
(beberapa saat kemudian masuk kembali penasehat, penyair)

Penasehat
Hormat yang mulia. Kami kembali menghadap yang mulia.

Ratu
Silahkan masuk. Silahkan saudara-saudara menjelaskan arti dari mimpi itu.

Penyair
Hormat yang mulia ratu, hamba mohon bicara. Hamba akan membacakan kembali bagian-bagian dari mimpi yang mulia tuliskan di kertas ini. “…sementara aku di tengah-tengah taman, aku melihat dua awan hitam melewati atas istana. Yang satu awan hitam kecil dan yang satu awan hitam besar. Di depan lebih dulu terlihat awan hitam kecil kemudian diikuti awan hitam yang besar. Kedua awan itu  berhenti beberapa saat di atas soto istana kemudian berlalu…”. Yang mulia ratu, dari apa yang saya pelajari atas mimpi tersebut, hamba mau mengatakan bahwa di istana ini pernah terjadi sesuatu peristiwa yang menyedihkan dan akan ada sesuatu peristiwa yang besar akan terjadi menimpa negeri ini.
Hormat yang mulia ratu. Kedua awan hitam itu terbentuk dengan tidak normal sebagai kejadian alam. Kedua awan hitam itu keluar dari cerobong asap dapur istana ini. Ini mengandung arti bahwa peristiwa menyedihkan yang sudah terjadi dan yang akan terjadi kemudian  itu adalah akibat dari perbuatan orang-orang di dalam istana ini. Dalam arti bahwa ada orang-orang di dalam istana ini yang sengaja telah membuat dan merencanakan sesuatu yang tidak baik.

Penasehat
Hormat yang mulia ratu. apakah memang yang dimaksudkan oleh  orang ini bahwa kejadian yang menyedihkan yang pernah terjadi itu adalah kematian yang mulia tuanku raja?

Ratu
Iya. Kemungkinan seperti itu. Karena hanya itu peristiwa yang menyedihkan yang telah terjadi di istana ini.

Penasehat
Kalau begitu, mohon ampun hamba terlalu lancang akan mengatakan ini. Berarti kematian tuanku  raja adalah kematian yang tidak wajar. Dan itu merupakan perbuatan dari orang-orang yang adadi dalam istana ini.

Ratu
Iya benar. Tapi, silahkan dulu saudara-saudara meneruskan menjelaskan arti mimpi itu.

Penyair
Mohon hamba melanjutkan membaca mimpi yang mulia ratu. “….saat kedua awan hitam itu telah berlalu, nampak di sudut istana terlihat seseorang sedang berbajukan warna keemasan sedang mengusir seekor kelinci dan kelinci itu berlari jauh meninggalkan istana…”. Yang mulia ratu, itu menandakan bahwa ada seseorang dalam istana ini yang tidak berbuat kesalahan apapun telah diusir keluar  oleh orang penting di istana ini.
Dan kemudian, Kelinci yang dilihat oleh yang mulia ratu dalam mimpi itu berwarna putih polos dan cerah. Dan orang penting yang dimakudkan tadi adalah yang nampak dari baju keemasan yang dipakai orang yang mengusir kelinci itu.

Ratu
Iya. Ada seseorang yang telah saya istirahatkan dari pekerjaannya. Aku kembalikan dia ke kampung asalnya karena ada tuduhan telah melakukan kesalahan meskipun sampai sekarang masih diselidiki kebenarannya. Dia adalah dayang-dayangku.

Penyair
Mohon hamba melanjutkan yang mulia. “….setelah aku melihat kejadian itu aku kembali terkejut ketika aku melihat rombongan peziarah berbaju hitam datang berbondong-bondong akan masuk ke dalam istana sambil menangis tetapi mereka tidak diperkenankan masuk….”. mohon ampun yang mulia. Itu memberi tanda bahwa tidak lama lagi akan terjadi peristiwa kematian orang penting di istana ini.
(nampak ratu semakin gelisah)
yang mulia ratu, Rombongan peziarah itu lebih mempertegas akan awan hitam besar yang ada di atas soto istana itu. Ini menandakan bahwa telah ada sebuah rencana besar untuk membunuh orang-orang penting di istana ini. Mohon ampun yang mulia.

Ratu
Iya. Aku pernah suatu waktu tanpa sengaja melihat pelayan istana dan seorang perempuan tua berbicara di tempat ini dan kalau aku tidak salah dengar mereka sementara merencanakan sesuatu untuk merebut kekuasaanku.
Apakah masih ada yang akan dijelaskan dari mimpi itu?

Penyair
Mohon ampun yang mulia. Hanya itu yang bisa hamba artikan dan jelaskan kepada ratu atas mimpi yang ratu alami.

Penasehat
Yang mulia ratu, sekiranya arti mimpi yang mulia ratu dianggap sebagai sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan maka biarlah kiranya yang mulia ratu lebih hati-hati dan waspada bahkan kiranya yang mulia ratu langsung mengambil kebijakan.

Ratu
Iya benar saudara penasehat. Kesini sebentar ( penasehat mendekat pada ratu dan ada sesuatu yang ratu bisikkan pada  penasehat lalu penasehat memanggil penyair untuk bersama keluar.)

Penasehat
(kembali masuk) yang mulia ratu, mohon petunjuk selanjutnya..

Ratu
Saudara penasehat. Sebelum sesuatu terjadi di istana ini kita harus mengambil tindakan untuk mencegahnya terlebih dahulu.

Penasehat
Maksud yang mulia ratu?

Ratu
Saat ini  panggil pelayan dan perempuan tua itu datang menghadapku di sini.

Penasehat
Baik yang mulia hamba laksanakan. (penasehat keluar dan masuk kemmbali membawa pelayan dan perempuan tua)

Penasehat
Mohon permisi yang mulia, hamba kembali menghadap.

Ratu
Silahkan masuk.
(masuk penasehat, pelayan dan perempuan tua)

Pelayan dan perempuan tua
Ampun yang mulia ratu, ada apa yang mulia ratu memanggil kami kemari?

Ratu
Saudara pelayan, ambil minuman dan makanan itu.

Pelayan
Mohon ampun yang mulia. Maksud yang mulia ratu minuman dan makanan itu? (sambil menunjuk ke arah minuman dan makanan ratu yang telah diberi racun oleh pelayan)

Ratu
Iya benar. Minuman dan makanan itu. Ambil dan bawa kemari.

Pelayan
(pelayan dan perempuan tua itu saling berhadapan penuh kecemasan). Baik yang mulia ratu. (segera pelayan mengambil minuman dan makanan itu dan membawanya kepada ratu)
Ini yang mulia ratu.

Ratu
Saudara pelayan, jawab dengan jujur pertanyaan saya. Siapa perempuaan tua ini? (pelayan semakin cemas dan gelisah penuh ketakutan menjawab pertanyaan ratu. Pelayan hanya diam)

Ratu
Saudara pelayan, jawab pertanyaan saya. (pelayan masih diam)

Ratu
Sekali lagi saudara pelayan. Ku mohon jawab pertanyaan saya. Siapa perempuan tua ini?

Pelayan
Mohon ampun yang mulia ratu. Dia hanyalah seorang pekerja di dapur.

Ratu
Yang terakhir aku bertanya. Siapa perempuan tua ini?

Pelayan
Yang mulia ratu, benar perempuan tua ini  hanyalah seorang pekerja di dapur.

Ratu
Baiklah. Terimakasih atas jawaban saudara. (ratu mengambil makanan dan memberinya kepada perempuan tua untuk dimakannya.)

Pelayan
Jangan yang mulia ratu. Lebih baik aku yang memakannya saja.

Ratu
Tidak. Makanan ini aku khususkan buat perempuan tua ini sebagai penghargaanku atas dedikasinya telah bekerja di istana ini.

Pelayan
Aku mohon, biarlah aku saja yang memakannya.

Perempuan Tua
Baiklah yang mulia ratu, hamba akan makan makanan ini (perempuan tua langsung memakannya dan dicegat oleh pelayan)

Pelayan
Tidak. Ibu jangan makan makanan itu. Jangan bu…. (tetapi makanan itu sudah terlanjur dimakan oleh perempuan tua itu)

Ratu
Ibu….?????? Apa yang kau katakan tadi? Ibu…????? Perempuan tua ini adalah ibumu????

Pelayan
(sambil menangis dan menjawab terbata-bata) iya…dia sebenarnya adalah ibuku.

Ratu
Sudah terlambat engkau mengakui dia sebagai ibumu. Karena racun dalam makanan itu sudah masuk di dalam tubuhnya. Dan racun dalam makanan itu engkau sendiri yang menaruhnya.

Pelayan
(sambil memeluk perempuan tua) ibuuuuuuu……maafkaan aku ibu. Seharusnya aku yang makan makanan beracun itu. Maafkan aku ibu….

Perempuan tua
(nampak mulai melemah) anakku….aku yang pantas untuk mendapat hukuman ini bukan kau. Karena ini semua adalah rencana ibu. Yang mulia ratu, kalau masih ada kesempatan jangan kau membunuh anak saya. Tetapi berikanlah pengampunan bagi dia karena diaa tidak tau apa-apa. Hamba sangat bermohon….( semakin melemah, jatuh dan akhirnya perempuan tua itu mati)

Pelayan
Ibuuuuuuuuuuuuuu…………(hening sesaat..)

Ratu                            
Saudara penasehat, bawa pelayan ke ruangan persidangan, dan panggil pengawal untuk mengangkat mayat perempuan tua ini.

Penasehat
Baik, hamba laksanakan yang mulia ratu.  (penasehat keluar bersama pelayan dan ratu berdoa)

Ratu
Ya Tuhan, terpujilah Engkau Tuhan Allah kami. Engkau yang berkuasa atas kehidupan kami maka terjadilah sesuai dengan kehendak-Mu atas orang-orang yang melakukan kejahatan di hadapan-Mu. Ampunilah hamba-Mu ini dan layakkan hamba untuk dapat terus memimpin negeri ini dengan penuh cinta dan kasih….amin.


(Akhirnya pelayan dipenjarakan dan kemudian dikeluarkan oleh ratu dari istana. Ratu kembali memanggil dayang-dayang ke istana).


T A M A T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renungan Hati

DIMANA CINTA

Opening... Lakon   1 Aku jalan yang tak berujung tanpa batas tanpa waktu Lakon 2 Aku adalah hatimu, aku adalah jiwamu, aku a...