“ HIKMAT
SANG RATU”
Oleh
: Saul Ering.
Stage setting : Ruangan istana kerajaan. Kursi kebesaran sang
ratu nampak mengisi ruangan itu. Di sudut
ruangan seorang perempuan berpakaian indah sedang memperhatikan sebuah
bingkai foto.. Cara memandangnya pun penuh keharuan seakan-akan sementara
mengenang kehidupan bersama dengan orang yang tergambar di dalam bingkai itu. Orang
yang dalam foto itu adalah sang raja yang telah meninggal. Kemudian perempuan
itu memeluk bingkai foto itu dengan penuh kehangatan, tiba-tiba ia dikagetkan
dengan suara ketukan pintu (seseorang
mengetuk pintu)
Ratu
Siapa yang mengetuk pintu?
Pelayan
Mohon ampun yang mulia.
Ini aku pelayanmu. Mohon izin masuk membawa makanan untuk ratu yang mulia.
Ratu
Silahkan masuk
Pelayan
Mohon permisi yang mulia. (
membawa makanan dan meletakkannya di atas meja). yang mulia ratu, apa ada lagi yang mulia ingin hamba lakukan?
Ratu
Suruh penasehat menemuiku di sini.
Pelayan
Baik yang mulia. Hamba mohon diri kembali melaksanakan perintah
yang mulia. (beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu)
Ratu
Siapa yang di luar itu?
Penasehat
Mohon ampun yang mulia. Ini hamba penasehatmu.
Ratu
Silahkan masuk
Penasehat
Ada apa yang mulia memanggil saya kemari?
Ratu
Saudara penasehat, apakah kau masih ingat berapa lama mendiang
tuan raja memerintah atas negeri ini?
Penasehat
Yang mulia ratu, sepengetahuan hamba mendiang tuanku raja telah
memerintah dan berkuasa atas negeri ini sudah hampir 20 tahun lamanya.
Ratu
Apakah kau melihat dan memperhatikan bagaimana situasi kehidupan
masyarakat di negeri ini selama pemerintahan mendiang tuan raja?
Penasehat
Mohon ampun yang mulia. Apakah hamba harus mengatakan jujur
kepada yang mulia?
Ratu
Ya….kejujuran adalah sebuah nilai kehidupan yang harus dijunjung
tinggi di dalam kerajaan ini bahkan di negeri ini.
Penasehat
Baik yang mulia. Kalau begitu mohon ampun hamba mengatakan hal
yang sebenarnya. Semenjak mendiang tuanku raja memerintah atas negeri ini
keadaan masyarakat di luar kerajaan ini sangatlah memprihatinkan.
Ratu
Apa maksud penasehat dengan sangat memprihatinkan?
Penasehat
Mohon maaf yang mulia. Maksud hamba adalah selama ini banyak
rakyat yang menjadi miskin dan dikucilkan oleh karena adanya ketidakadilan peraturan
yang dibuat oleh mendiang tuan raja di negeri ini. Sehingga rakyat yang hanya
hidup pas-pasan selalu mendapat tekanan dari para bangsawan. Bahkan terjadi
perampasan harta dan penghilangan mata pencaharian kepada rakyat. Yang kaya
semakin kaya dan yang miskin semakin bertambah miskin. Dimana-mana rakyat yang
berani melakukan perlawanan langsung dikucilkan, dipenjarakan dan sampai diasingkan ke luar dari negeri ini.
Rakyat mengalami keterpasungan oleh tirani mendiang tuan raja. Mohon ampun
hamba telah mengatakan ini.
Ratu
(hening sejenak)…Ternyata
selama ini aku benar-benar telah dibutakan dengan kebutaan mataku ini.
Bertahun-tahun lamanya aku dibodohi oleh suamiku sendiri. Mengapa ketika aku
baru dapat melihat ini, aku baru tahu dan sadar bahwa selama ini suamiku telah
bersikap sejahat ini kepada rakyat. Saudara penasehat, terimakasih atas
kejujuranmu. Sekarang biarkan aku sendiri dulu di sini.
Penasehat
Baik yang mulia. Hamba mohon permisi. (penasehat keluar dan ratu nampak memikirkan dan mengenang sesuatu)
Ratu
(kembali ia
mengambil dan memegang bingkai foto mendiang tuan raja sambil mengucapkan
sesuatu). Sekian tahun lamanya aku hidup bersamamu tanpa ada keraguan
sedikitpun dariku atas segala kekuasaanmu yang kau jalankan di negeri ini. Semenjak
kebutaan kedua mata ini, sejak itulah kau telah membodohiku. Kau telah
berbohong kepadaku. Mengapa keserakahan dan ketamakan serta kesombongan jabatan
kekuasaan telah menggerogoti hatimu dengan mengorbankan rakyat kita yang tidak
bersalah, mengapa…….? (ratu berdiam
sejenak dan berdoa)
Ya Tuhan, dosa apa yang telah aku buat sehingga aku sempat
mengalami kebutaan mata ini bertahun-tahun lamanya? turut berdosa atas apa yang telah dilakukan
oleh suamiku kepada rakyatku. Jikalau Engkau berkenan kepadaku untuk merubah
keadaan negeri ini maka berikanlah aku kesempatan untuk melakukannya demi
kebaikan rakyatku. Berikan aku hikmat untuk dapat melakukannya. Amin.
(Ratu berjalan ke arah
pintu masuk memanggil penasehat). Penasehat……saudara penasehat…..
Penasehat
Ya yang mulia ratu. Apa benar yang mulia memanggilku?
Ratu
Iya. Coba engkau mendekat kemari. (penasehat menghampiri ratu).
Begini saudara penasehat, sekarang ini aku akan berkeliling di negeri ini untuk
melihat-lihat keadaan di luar kerajaan ini apa yang sebenarnya telah terjadi.
Panggil dayang-dayang untuk bersama kita pergi ke luar.
Penasehat
Baik hamba laksanakan.
(keluar memanggil dayang-dayang dan kembali menghadap ratu).
Penasehat
Hamba menghadap yang mulia
Dayang-dayang
Hamba juga menghadap dan siap melaksanakan perintah yang mulia.
Ratu
Kau penasehat dan dayang-dayang. Saat ini temani aku pergi ke
luar istana ini untuk melihat-lihat
keaadaan masyarakat yang sebenarnya
Dayang-dayang dan
penasehat
Baik yang mulia ratu. (Ratu,
penasehat dan dayang-dayang keluar. Beberapa saat kemudian masuk pelayan mengambil piring bekas makanan ratu. Saat
menuju ke pintu keluar ia berhenti sejenak dan berpikir sesuatu. Ia mengalihkan
perhatiannya ke arah mahkota raja dan ratu. Sementara ia memperhatikannya
tiba-tiba ia dikagetkan dengan tepukan tangan seseorang di bahunya).
Perempuan Tua
Hei….apa yang kau
lakukan di sini?
Pelayan
Ohhhhh………ibu?????
Perempuan Tua
Apa yang sedang
engkau lakukan di sini? Mengapa engkau memegang mahkota itu?
Pelayan
Aku hanya ingin
memegangnya saja ibu.
Perempuan Tua
Kamu jangan
berbohong. Ibu tahu apa yang ada di dalam hatimu dan di dalam isi kepalamu.
Kamu jangan berpura-pura. Kamu menginginkan mahkota itu kan?
Pelayan
(menjawab dengan terbata-bata)..iya bu. Apakah
salah aku menginginkan itu?
Perempuan Tua
Anakku….apa yang
kau pikirkan dan yang kau inginkan, itu sudah sejak lama ibu pikirkan.
Pelayan
Maksud ibu……mahkota
ini juga menjadi keinginan ibu untuk mendapatkannya?
Perempuan Tua
Seperti begitu.
Jelasnya adalah bahwa sudah sejak yang mulia ratu menjadi buta di saat
pemerintahan tuan raja, ibumu telah menerencanakan sesuatu untuk mendapatkan
mahkota itu dari sang ratu. Bahkan lebih dari itu ibu hendak menjadikan kau
sebagai ratu di kerajaan ini.
Pelayan
Apa bu…..apa aku
tidak salah dengar?
Perempuan Tua
Tidak nak. Apa yang
kau dengar itulah yang sementara ibu rencanakan sampai saat ini tinggal
menunggu waktu yang tepat. Sehubungan dengan yang mulia sudah dapat melihat,
jadi ibu ada perubahan rencana.
Pelayan
Kalau begitu,
mahkota ini sebentar lagi akan menjadi milikku dan aku akan berkuasa di negeri
ini.
Perempuan Tua
Bukan aku
nak…tetapi kita….kita.
Pelayan
Oh iya bu. Kalau
boleh aku tahu apa yang menjadi rencana ibu? Mungkin aku bisa membantu ibu
mempercepat rencana ini dan terlebih mempercepat mahkota terpakai di kepalaku
ini..hahahahaha…(pelayan mendekati ibunya dan mendengarkan bisikan dari ibunya)
Pelayan
Baik bu…aku akan
melakukan apa yang direncanakan ibu.
Perempuan Tua
Jangan tergesa-gesa
dulu nak. Jangan gegabah. Sebab kalau terlalu gegabah rencana kita bisa gagal
bahkan kita akan dihukum yang mulia ratu. Biarlah dulu kita menunggu waktu yang
tepat. Kita harus selalu menjaga sikap di depan yang mulia ratu. Jangan sampai
terkesan kita sedang bersekongkol merencanakan merebut kekuasaannya. Biarlah sementara
ini kau terus melayani mulia ratu.
Pelayan
Baik bu. Tetapi
…bagaimana dengan orang-orang yang selalu ada dekat dengan mulia ratu? Apakah
mereka tidak akan menjadi penghalang untuk memuluskan rencana yang ibu maksudkan?
Perempuan Tua
Maksudmu siapa ?
Pelayan
Siapa lagi kalau
bukan si penasehat pribadi yang mulia ratu beserta dengan koleganya.
Perempuan Tua
Oh mereka itu
maksudmu. Jangan khawatir nak, ibu sudah memikirkan itu jauh sebelumnya. Tetapi
meskipun demikian, kita harus tetap waspada kepada mereka. Ibu juga sudah
menyusun rencana untuk menyingkirkan mereka.
Pelayan
Ohh…ternyata otak
ibu sangat cerdas. Tidak menyesal aku mempunyai ibu seperti ini
Perempuan Tua
Ingat nak jangan
dulu gegabah dan menunjukkan sikap yang terlalu berlebihan di dalam istana ini.
Rencana kita masih panjang. Jangan sia-siakan waktu dan rencana yang sudah kita
susun selama ini. Ingat nak.
Pelayan
Baik bu, jangan
khawatir. Ibu percaya saja pada saya.
Perempuan Tua
Baiklah kalau
begitu. Ibu akan keluar dulu, jangan sampai
yang mulia ratu tahu kalau ibu ada di ruangan ini bersamamu. Teruskan
saja pekerjaan kamu.
(perempuan tua keluar. Pelayan terus melanjutkan tugasnya
membersihkan ruangan lalu keluar. Masuk ratu bersama penasehat dan
dayang-dayang. Ratu langsung duduk dan menyuruh dayang-dayang mengambilkan
minuman)
Ratu
Dayang-dayang, tolong
ambilkan minuman. (dayang-dayang
membawakan minuman buat ratu). Terimakasih. Oh ya penasehat, kita akan
mencari waktu lagi untuk meneruskan apa yang sudah kita lakukan tadi. Sekarang
ini aku ingin beristirahat dulu.
Penasehat
Baik yang mulia
ratu. Hamba mohon permisi. (ratu menganggukkan kepala)
Dayang-dayang
Hamba juga mohon
permisi yang mulia ratu.
Ratu
Tunggu sebentar.
Temani dulu aku sebentar di sini. ( ratu
mengambil kembali bingkai foto raja dan melihatnya sampai ia tertidur. Dan
tanpa disadari bingkai foto itu terjatuh
dan pecah. Dayang-dayang bergegas mengangkat bingkai foto yang jatuh itu dan
hendak membersihkan pecahan kaca bingkai foto tetapi tiba-tiba masuk pelayan)
Pelayan
Apa yang sedang kau
lakukan?
Dayang-dayang
Kenapa kau tidak
mengetuk pintu dulu baru masuk?
Pelayan
Aku sengaja tidak
mengetuk pintu, karena aku ingin tahu apa yang sedang engkau lakukan di dalam
sini. Rupanya kau telah memecahkan kaca bingkai foto mendiang tuan raja?
Dayang-dayang
Bukan aku yang menjatuhkan
dan memecahkannya. Tadi saat yang mulia ratu tertidur, foto ini terlepas dari
tangannya dan jatuh sehingga kaca bingkai foto ini pecah.
Pelayan
Achhh….kamu jangan
berpura-pura lagi. Jangan berbohong. Buktinya aku mendapati kamu sementara
memegang foto itu di bawah sana. Akan aku laporkan kepada yang mulia ratu.
Dayang-dayang
Kau jangan menuduh
orang sembarangan saja.
Pelayan
Aku tidak menuduh.
Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat.
Dayang-dayang
Terserah kau mau bilang apa. Yang pasti bukan
aku yang menjatuhkan dan memecahkannya.
Pelayan
Kamu yang
memecahkannya. Iya kan.
Dayang-dayang
Hati-hati dengan
mulutmu itu. Lebih baik kau keluar dari ruangan ini. Bicaramu hanya akan
membuat keributan dan mengganggu istirahat dari yang mulia ratu.
Pelayan
Baik. Aku akan
keluar dari ruangan ini. Tapi ingat aku akan mengatakan pada yang mulia
ratu bahwa kau telah memecahkan kaca
bingkai foto itu. (pelayan langsung keluar. Dayang-dayang membersihkan pecahan kaca di lantai lalu
mengambil foto itu dan meletakkannya di atas meja. Kemudian keluar. Beberapa
saat kemudian ratu terbangun dan mencari sesuatu, kemudian memanggil
dayang-dayang dan pelayan)
Ratu
Dayang-dayang…..pelayan….
Dayang-dayang
mohon maaf yang
mulia ratu. Ini aku dayang-dayang.
Ratu
Silahkan masuk. (terdengar kembali suara ketukan pintu)
Pelayan
Mohon maaf yang
mulia ratu. Ini aku pelayanmu
Ratu
Silahkan masuk. Aku
mau bertanya kepada kalian berdua. Apakah kalian tahu dimana foto tuan raja? (dayang-dayang dan pelayan saling menatap).
Sepengetahuan saya terakhir yang bersamaku di ruangan ini adalah kau
dayang-dayang. Apa kau tahu dimana foto itu?
Dayang-dayang
Maaf yang mulia
ratu. Foto itu ada di sebelah sana. Bukan hamba bermaksud lancang meletakkan
foto itu di situ tetapi aku mengambilnya di lantai ketika foto itu jatuh dari
tangan yang mulia ratu sewaktu yang mulia tertidur tadi.
Pelayan
Mohon izin hamba
bicara yang mulia. Kaca bingkai foto itu
telah pecah.
Ratu
Apa? Pecah????
Pelayan
Iya yang mulia
Ratu
Siapa yang telah
berani memecahkannya?
Pelayan
Mohon ampun yang
mulia. Hamba mau mengatakan apa yang hamba lihat tadi bahwa foto itu dipecahkan
oleh dayang-dayang.
Dayang-dayang
Mohon ampun yang
mulia. Bukan hamba yang memecahkannya. Hamba hanya mengambilnya di lantai dan
pada waktu itu masuk pelayan melihat aku sedang membersihkan pecahan kaca yang
ada sehingga ia menuduhku yang memecahkannya.
Pelayan
Bohong dia yang
mulia. Aku sendiri yang melihat dia yang menjatuhkannya sehingga pecah.
Dayang-dayang
Mohon ampun yang
mulia. Bukan hamba yang memecahkannya.
Pelayan
Bohong yang mulia. Aku
berani bersaksi bahwa dia yang memecahkannya.
Dayang-dayang
( sambil menangis memohon) Sekali lagi mohon
beribu-ribu maaf yang mulia. Bukan aku yang memecahkannya. Tetapi kalau
memang hamba harus dihukum, hamba akan
terima.
Ratu
Baiklah. Persoalan
ini saya akan tindaklanjuti. Sementara
itu kau dayang-dayang beristirahat dulu dari pekerjaanmu ini. Saya akan
perintahkan para pengawal untuk membawamu kembali ke kampungmu.
Dayang-dayang
Dengan segala
hormat yang mulia, hamba menerima keputusan yang mulia. Hamba mohon permisi yang mulia.(langsung keluar)
Ratu
(menganggukkan kepala). Pelayan,
tolong panggilkan penasehat.
Pelayan
Hamba laksanakan
yang mulia
(beberapa saat kemudian masuk penasehat dan pelayan)
Penasehat
Hamba menghadap
yang mulia. Benarkah hamba dipanggil yang mulia ratu?
(sementara penasehat menghadap dan berbicara dengan ratu,
pelayan berpura-pura mengerjakan sesuatu
sambil memperhatikan pembicaraan ratu dan penasehat)
Ratu
Ya benar.
Penasehat
Mohon petunjuk apa
yang hamba akan lakukan
Ratu
Saudara penasehat, dapatkah engkau mencarikan seorang
penyair di negeri ini yang pintar dan cakap mengartikan mimpi. Tugas ini aku percayakan kepadamu.
Penasehat
Hormat yang mulia.
Trimakasih atas kepercayaan yang mulia.
Hamba segera laksanakan. Mohon permisi yang mulia ratu.
Ratu
Silahkan penasehat
( penasehat langsung keluar dan pergi mencari mendapatkan orang
yang dimaksudkan oleh ratu)
Ratu
Pelayan, tolong
bersihkan dan atur lebih rapi ruangan ini. Aku akan ke ruangan perpustakaan
dulu. (ratu langsung pergi keluar menuju
ruangan perpustakaan. Tidak lama kemudian ibu dari pelayan masuk)
Perempuan Tua
Apa yang
sedang kau lakukan di sini nak?
Pelayan
Ohhh ibu, saya kira
siapa. Aku sedang ditugaskan ratu untuk membersihkan ruangan ini.
Perempuan Tua
Oh ya, ibu dengar
si dayang-dayang ratu sudah diusir dari istana ini. Apa benar nak?
Pelayan
Ya benar sekali bu (sambil tertawa)
Perempuan Tua
Hussss…jangan
terlalu kuat bicara dan tertawamu, nanti di dengar orang.
Pelayan
Aku telah
menyingkirkan satu orang. Tidak lama lagi si penasehat yang akan mendapat
giliran untuk keluar dari istana ini (tertawa).
Perempuan tua
Jangan gegabah nak.
Jangan dulu kamu bersenang-senang karena masih panjang rencana kita berdua.
(tanpa diketahui mereka, tiba-tiba ratu masuk dan berhenti
sejenak memperhatikan pembicaraan perempuan tua dan pelayan itu. Kemudian
perlahan-lahan mundur ke balik dinding)
Pelayan
Sesudah penasehat, tinggal satu lagi kita akan singkirkan. Si ratu yang malang. (tertawa. Ratu sangat terkejut mendengar
percakapan itu.)
Perempuan Tua
Nak, lebih baik aku
keluar dulu. Nanti ketahuan oleh ratu.
Pelayan
Baik bu. (perempuan tua keluar dan masuk ratu
sehingga saling bersentuhan. Pelayan kaget melihat ratu masuk dan berpura-pura
bekerja)
Ratu
Pelayan, siapa
perempuan tua tadi? agaknya aku mengenal dia.
Pelayan
Maaf yang mulia
ratu. Dia hanya pekerja di dapur. Kebetulan saja dia melewati ruangan ini dan
aku memanggilnya untuk membantuku di sini.
Ratu
( semakin curiga tetapi bersikap biasa terhadap pelayan).
Baiklah. Kalau pekerjaanmu sudah selesai silahkan tinggalkan ruangan ini.
Pelayan
Baik yang mulia.
Ratu
Tunggu sebentar.
Tolong panggilkan penasehat menemuiku di sini.
Pelayan
Baik, hamba
laksanakan yang mulia ratu. (pelayan
keluar dan ratu nampak memikirkan sesuatu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan
pintu)
Ratu
Siapa yang di luar
itu?
Penasehat
Mohon ampun yang
mulia, ini aku penasehat.
Ratu
Silahkan masuk (penasehat masuk)
Penasehat
Terimakasih yang
mulia. Ada apa yang mulia ratu memanggil
saya?
Ratu
Saudara penasehat,
dari pengamatanmu selama ini bagaimana kau melihat sikap pelayan aku?
Penasehat
Maksud ratu pelayan
yang selalu membersihkan ruangan ini?
Ratu
Iya.
Penasehat
Mohon ampun yang
mulia ratu. Hamba merasa dia selalu bersikap santun terhadap yang mulia ratu.
Memangnya ada apa yang mulia ratu menanyakan tentang pelayan itu?
Ratu
Saudara penasehat. aku mulai menaruh curiga kepada pelayan itu.
Penasehat
Maksud yang mulia
ratu curiga bagaimana?
Ratu
Begini saudara
penesehat. Tadi pada saat aku akan masuk ruangan ini aku melihat pelayan sedang
bercerita dengan seorang perempuan tua. Dan aku sempat mendengar isi percakapan
mereka.
Penasehat
Maksud yang mulia
ratu perempuan tua yang mana?
Ratu
Aku tidak terlalu
mengenal perempuan tua itu. Tetapi menurut pelayan, dia adalah salah seorang
pekerja di dapur. Apa kau mengenal perempuan tua itu?
Penasehat
Yang mulia ratu,
memang sepengetahuanku ada perempuan tua yang bekerja di dapur. Ia telah ada
semenjak mendiang tuan raja masih hidup. Dia masuk dalam istana ini semenjak
yang mulia ratu mulai mengalami gangguan
penglihatan pada mata yang mulia ratu. Itulah sebabnya yang mulia ratu tidak
terlalu begitu mengenal perempuan tua itu.
Ratu
Aku semakin curiga
ketika mendengar isi percakapan mereka
berdua bahwa mereka mempunyai rencana yang tidak baik di sini. Kelihatannya
mereka berdua sangat akrab seperti anak dan ibu saja.
Penasehat
Mohon ampun yang mulia ratu. Kalau begitu kita harus
menyelidiki tentang keberadaan perempuan tua itu dan hubungannya dengan
pelayanm ratu.
Ratu
Iya. Tetapi jangan
terlalu gegabah. Bersikap biasa saja sambil mencari tahu keadaan yang sebenarnya.
Penasehat
Baik yang mulia
ratu. Apa masih ada yang hamba akan lakukan?
Ratu
Untuk sementara itu
dulu. Sekarang aku ingin beristirahat dulu di kamar. Aku cukup lelah setelah
berjalan mengelilingi kerajaan ini. Temani aku pergi ke kamar.
Penasehat
Baik yang ratu.(
penasehat dan ratu keluar. Masuk pelayan)
Pelayan
Sebelum terlambat,
dan sebelum ratu mengetahui rencana aku dan ibuku selama ini kini saatnya aku
akan gunakan kesempatan ini untuk segera membunuh si ratu yang malang. (tertawa dan mengambil botol yang berisi
bubuk beracun lalu menuangkan ke dalam minuman serta makanan ratu. Sementara
pelayan menuangkan racun ke dalam minuman, tiba-tiba masuk penasehat).
Penasehat
Hei…..apa yang
sedang kau lakukan di ruangan ini?
Pelayan
Ohh…maaf penasehat.
Aku kemari hanya untuk membawa minuman dan makanan ratu.
Penasehat
Yang aku tahu, sebelum yang mulia ratu memanggilmu
masuk ke ruangan ini kau tidak boleh berada di sini.
Pelayan
Memang benar.
Tetapi aku hanya membawa minuman dan makanan untuk yang mulia ratu. Baiklah aku
permisi dulu. (pelayan keluar dan
penasehat mengamat-amati minuman dan makanan yang dibawa pelayan. Tiba-tiba
ratu masuk).
Penasehat
Mohon maaf yang
muliaa ratu kalau hamba telah lancang berada di ruangan ini tanpa sepengetahuan
yang mulia ratu.
Ratu
(sambil menganggukkan kepala).
Penasehat
Yang mulia ratu,
aku ada di sini karena aku tadi sempat melihat si pelayan ada di ruangan ini
dengan gerak-geriknya yang mencurigakan. Karena aku curiga jadi aku langsung
saja masuk.
Ratu
(langsung menuju kursi dan duduk) saudara penasehat,
akhir-akhir ini perasaanku sangat tidak mengenakkan. Mungkin saja ada sesuatu
yang akan dilakukan oleh si pelayan. Oh ya saudara penasehat, bagaimana tugas
yang aku percayakan padamu. Apakah sudah di dapat penyair itu?
Penasehat
Hormat yang mulia. Penyair yang mulia maksudkan tersebut sudah
aku dapatkan. Kalau yang mulia ratu ingin dia masuk, akan aku panggilkan
Ratu
Kalau begitu panggil dia masuk.
Penasehat
Baik yang mulia. ( penasehat
keluar dan memanggil orang yang dicari
ratu)
Hamba kembali menghadap yang mulia. Inilah orang yang di cari
yang mulia ratu. Mohon petunjuk selanjutnya.
Penyair
Hormat yang mulia ratu. Hamba menghadap atas perintah yang mulia
ratu.
Penasehat
Hormat yang mulia ratu. Perlu hamba kenalkan siapa orang ini.
Dia adalah seorang penyair sekaligus penterjemah mimpi. Dia juga adalah seorang
pengembara yang selalu bernubuat dan
mengajarkan kebaikan pada khalayak orang yang di temuinya di segala sudut
jalan. Aku telah melihat dan memperhatikan beberapa orang yang sama
pekerjaannya dengan dia, tetapi orang ini yang aku nilai pantas untuk
diperhadapkan kepada yang mulia ratu.
Ratu
Baiklah. Aku akan memberi tugas kepada kamu untuk mengartikan
dan menjelaskan mimpi yang aku alami beberapa hari yang lalu. (ratu mengambil secarik kertas dan pulpen
lalu menuliskan mimpi ratu kemudian diserahkannya kepada penyair itu). Saudara
penasehat, suruh orang ini beristirahat sejenak dan diberi makanan dan minuman.
Sesudah itu kembali ke ruangan ini.
Penasehat
Baik yang mulia. Hamba laksanakan.
Penyair
mohon permisi yang mulia ratu. (penyair dan penasehat keluar)
Ratu
(sambil berjalan
memikirkan sesuatu) apa memang benar si pelayan itu mempunyai niat jahat terhadap
aku? Apa adaa hubungannya dengan perempuan tua yang aku lihat waktu beberapa
waktu yang lalu? (ratu berdoa).
Ya Tuhan, berilah hikmat kepadaku untuk dapat mengetahui apa
yang sebenarnya terjadi di istana ini. Dan berilah hati yang tulus untuk boleh
mengambil sikap yang benar dan tepat atas semua yang telah dan akan terjadi.
Terpujilah Engkau ya Tuhan, amin.
(beberapa saat kemudian
masuk kembali penasehat, penyair)
Penasehat
Hormat yang mulia. Kami kembali menghadap yang mulia.
Ratu
Silahkan masuk. Silahkan saudara-saudara menjelaskan arti dari
mimpi itu.
Penyair
Hormat yang mulia ratu, hamba mohon bicara. Hamba akan
membacakan kembali bagian-bagian dari mimpi yang mulia tuliskan di kertas ini.
“…sementara aku di tengah-tengah taman, aku melihat dua awan hitam melewati
atas istana. Yang satu awan hitam kecil dan yang satu awan hitam besar. Di
depan lebih dulu terlihat awan hitam kecil kemudian diikuti awan hitam yang
besar. Kedua awan itu berhenti beberapa
saat di atas soto istana kemudian berlalu…”. Yang mulia ratu, dari apa yang
saya pelajari atas mimpi tersebut, hamba mau mengatakan bahwa di istana ini
pernah terjadi sesuatu peristiwa yang menyedihkan dan akan ada sesuatu
peristiwa yang besar akan terjadi menimpa negeri ini.
Hormat yang mulia ratu. Kedua awan hitam itu terbentuk dengan
tidak normal sebagai kejadian alam. Kedua awan hitam itu keluar dari cerobong
asap dapur istana ini. Ini mengandung arti bahwa peristiwa menyedihkan yang
sudah terjadi dan yang akan terjadi kemudian itu adalah akibat dari perbuatan orang-orang
di dalam istana ini. Dalam arti bahwa ada orang-orang di dalam istana ini yang
sengaja telah membuat dan merencanakan sesuatu yang tidak baik.
Penasehat
Hormat yang mulia ratu. apakah memang yang dimaksudkan oleh orang ini bahwa kejadian yang menyedihkan yang
pernah terjadi itu adalah kematian yang mulia tuanku raja?
Ratu
Iya. Kemungkinan seperti itu. Karena hanya itu peristiwa yang
menyedihkan yang telah terjadi di istana ini.
Penasehat
Kalau begitu, mohon ampun hamba terlalu lancang akan mengatakan
ini. Berarti kematian tuanku raja adalah
kematian yang tidak wajar. Dan itu merupakan perbuatan dari orang-orang yang
adadi dalam istana ini.
Ratu
Iya benar. Tapi, silahkan dulu saudara-saudara meneruskan
menjelaskan arti mimpi itu.
Penyair
Mohon hamba melanjutkan membaca mimpi yang mulia ratu. “….saat
kedua awan hitam itu telah berlalu, nampak di sudut istana terlihat seseorang
sedang berbajukan warna keemasan sedang mengusir seekor kelinci dan kelinci itu
berlari jauh meninggalkan istana…”. Yang mulia ratu, itu menandakan bahwa ada
seseorang dalam istana ini yang tidak berbuat kesalahan apapun telah diusir
keluar oleh orang penting di istana ini.
Dan kemudian, Kelinci yang dilihat oleh yang mulia ratu dalam
mimpi itu berwarna putih polos dan cerah. Dan orang penting yang dimakudkan
tadi adalah yang nampak dari baju keemasan yang dipakai orang yang mengusir
kelinci itu.
Ratu
Iya. Ada seseorang yang telah saya istirahatkan dari
pekerjaannya. Aku kembalikan dia ke kampung asalnya karena ada tuduhan telah
melakukan kesalahan meskipun sampai sekarang masih diselidiki kebenarannya. Dia
adalah dayang-dayangku.
Penyair
Mohon hamba melanjutkan yang mulia. “….setelah aku melihat
kejadian itu aku kembali terkejut ketika aku melihat rombongan peziarah berbaju
hitam datang berbondong-bondong akan masuk ke dalam istana sambil menangis
tetapi mereka tidak diperkenankan masuk….”. mohon ampun yang mulia. Itu memberi
tanda bahwa tidak lama lagi akan terjadi peristiwa kematian orang penting di
istana ini.
(nampak ratu semakin
gelisah)
yang mulia ratu, Rombongan peziarah itu lebih mempertegas akan
awan hitam besar yang ada di atas soto istana itu. Ini menandakan bahwa telah
ada sebuah rencana besar untuk membunuh orang-orang penting di istana ini.
Mohon ampun yang mulia.
Ratu
Iya. Aku pernah suatu waktu tanpa sengaja melihat pelayan istana
dan seorang perempuan tua berbicara di tempat ini dan kalau aku tidak salah
dengar mereka sementara merencanakan sesuatu untuk merebut kekuasaanku.
Apakah masih ada yang akan dijelaskan dari mimpi itu?
Penyair
Mohon ampun yang mulia. Hanya itu yang bisa hamba artikan dan jelaskan
kepada ratu atas mimpi yang ratu alami.
Penasehat
Yang mulia ratu, sekiranya arti mimpi yang mulia ratu dianggap
sebagai sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan maka biarlah kiranya yang
mulia ratu lebih hati-hati dan waspada bahkan kiranya yang mulia ratu langsung
mengambil kebijakan.
Ratu
Iya benar saudara penasehat. Kesini sebentar ( penasehat mendekat pada ratu dan ada
sesuatu yang ratu bisikkan pada
penasehat lalu penasehat memanggil penyair untuk bersama keluar.)
Penasehat
(kembali masuk) yang mulia ratu, mohon petunjuk selanjutnya..
Ratu
Saudara penasehat. Sebelum sesuatu terjadi di istana ini kita
harus mengambil tindakan untuk mencegahnya terlebih dahulu.
Penasehat
Maksud yang mulia ratu?
Ratu
Saat ini panggil pelayan
dan perempuan tua itu datang menghadapku di sini.
Penasehat
Baik yang mulia hamba laksanakan. (penasehat keluar dan masuk kemmbali membawa pelayan dan perempuan tua)
Penasehat
Mohon permisi yang mulia, hamba kembali menghadap.
Ratu
Silahkan masuk.
(masuk penasehat, pelayan
dan perempuan tua)
Pelayan dan
perempuan tua
Ampun yang mulia ratu, ada apa yang mulia ratu memanggil kami
kemari?
Ratu
Saudara pelayan, ambil minuman dan makanan itu.
Pelayan
Mohon ampun yang mulia. Maksud yang mulia ratu minuman dan
makanan itu? (sambil menunjuk ke arah
minuman dan makanan ratu yang telah diberi racun oleh pelayan)
Ratu
Iya benar. Minuman dan makanan itu. Ambil dan bawa kemari.
Pelayan
(pelayan dan
perempuan tua itu saling berhadapan penuh kecemasan). Baik
yang mulia ratu. (segera pelayan mengambil minuman dan makanan itu dan
membawanya kepada ratu)
Ini yang mulia ratu.
Ratu
Saudara pelayan, jawab dengan jujur pertanyaan saya. Siapa
perempuaan tua ini? (pelayan semakin
cemas dan gelisah penuh ketakutan menjawab pertanyaan ratu. Pelayan hanya diam)
Ratu
Saudara pelayan, jawab pertanyaan saya. (pelayan masih diam)
Ratu
Sekali lagi saudara pelayan. Ku mohon jawab pertanyaan saya.
Siapa perempuan tua ini?
Pelayan
Mohon ampun yang mulia ratu. Dia hanyalah seorang pekerja di
dapur.
Ratu
Yang terakhir aku bertanya. Siapa perempuan tua ini?
Pelayan
Yang mulia ratu, benar perempuan tua ini hanyalah seorang pekerja di dapur.
Ratu
Baiklah. Terimakasih atas jawaban saudara. (ratu mengambil makanan dan memberinya kepada perempuan tua untuk
dimakannya.)
Pelayan
Jangan yang mulia ratu. Lebih baik aku yang memakannya saja.
Ratu
Tidak. Makanan ini aku khususkan buat perempuan tua ini sebagai
penghargaanku atas dedikasinya telah bekerja di istana ini.
Pelayan
Aku mohon, biarlah aku saja yang memakannya.
Perempuan Tua
Baiklah yang mulia ratu, hamba akan makan makanan ini (perempuan
tua langsung memakannya dan dicegat oleh pelayan)
Pelayan
Tidak. Ibu jangan makan makanan itu. Jangan bu…. (tetapi makanan itu sudah terlanjur
dimakan oleh perempuan tua itu)
Ratu
Ibu….?????? Apa yang kau katakan tadi? Ibu…????? Perempuan tua
ini adalah ibumu????
Pelayan
(sambil menangis
dan menjawab terbata-bata) iya…dia sebenarnya adalah ibuku.
Ratu
Sudah terlambat engkau mengakui dia sebagai ibumu. Karena racun
dalam makanan itu sudah masuk di dalam tubuhnya. Dan racun dalam makanan itu
engkau sendiri yang menaruhnya.
Pelayan
(sambil memeluk
perempuan tua) ibuuuuuuu……maafkaan aku ibu. Seharusnya aku yang makan makanan
beracun itu. Maafkan aku ibu….
Perempuan tua
(nampak mulai melemah) anakku….aku yang pantas untuk mendapat
hukuman ini bukan kau. Karena ini semua adalah rencana ibu. Yang mulia ratu, kalau
masih ada kesempatan jangan kau membunuh anak saya. Tetapi berikanlah
pengampunan bagi dia karena diaa tidak tau apa-apa. Hamba sangat bermohon….( semakin melemah, jatuh dan akhirnya
perempuan tua itu mati)
Pelayan
Ibuuuuuuuuuuuuuu…………(hening
sesaat..)
Ratu
Saudara penasehat, bawa pelayan ke ruangan persidangan, dan
panggil pengawal untuk mengangkat mayat perempuan tua ini.
Penasehat
Baik, hamba laksanakan yang mulia ratu. (penasehat
keluar bersama pelayan dan ratu berdoa)
Ratu
Ya Tuhan, terpujilah Engkau Tuhan Allah kami. Engkau yang
berkuasa atas kehidupan kami maka terjadilah sesuai dengan kehendak-Mu atas
orang-orang yang melakukan kejahatan di hadapan-Mu. Ampunilah hamba-Mu ini dan
layakkan hamba untuk dapat terus memimpin negeri ini dengan penuh cinta dan
kasih….amin.
(Akhirnya pelayan dipenjarakan dan kemudian dikeluarkan oleh
ratu dari istana. Ratu kembali memanggil dayang-dayang ke istana).
T A M A T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar